Minggu, 16 Desember 2018

Kajian IMMawati


IMMAWATI TAK SEKEDAR GELAR


Pemateri : Kakanda Halima Tihurua

    IMMawati adalah sebuah gelar yang didapatkan seorang perempuan yang telah dikader di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
    IMMawati adalah gelar putri yang telah didapatkan setelah Darul Arqam Dasar (DAD).

Apa itu gelar *IMMawati* ?

    Gelar itu bukan hanya sekedar gelar tapi sebuah amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
    IMMawati adalah amanah yang harus dijaga. Sebagai seorang perempuan (IMMawati) kita harus mampu menjaga diri kita sendiri.
Seperti:

1. Dalam bersosial media 
     Sebagai IMMawati alangkah baiknya  menjadi pengguna sosial media yang bijak serta menggunakan sosial media sebagai ladang dakwah dan ladang pahala. 
2. Batasan-batasan pergaulan.   
    Sudah diatur dalam agama, pandai-pandailah dalam memilih teman.
3. Mempunyai kepekaan yang tinggi.
    Seperti membantu teman dalam keadaan senang maupun dalam keadaan susah.
4. Sering membaca buku 
     Dengan Membaca kita dapat menambah pengetahuan, karena jelas berbeda cara berbicara orang yang berilmu degan orang yang tidak berilmu.

*KESIMPULAN* :
1. Layakkanlah diri kita sebagai seorang IMMawati jika ingin dihargai 
2. Dengan menjaga gelar IMMawati maka tentu kalian menjaga diri kalian , keluarga serta nama baik ikatan dan perserikatan.


Billahifii sabililhaq
Fastabiqul khairat...

Kamis, 13 Desember 2018

Semangat Untuk Aini



Aini mahasiswa asal sinjai kena kanker kelenjar tiroid mematikan 

Nuraini (21) mahasiwa Ilmu Adminitrasi Negara (Adn) angkatan 2015 Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar dirawat di ICU Rumah Sakit (RS) Faisal karena diserang penyakit mematikan, kanker tiroid.
Nuraini biasa disapa Aini diserang Kanker Tiroid sejak awal semester 5.
Awal Aini diserang penyakit ini, selalu ingin flu, suaranya serak dan terdapat benjolan kecil di lehernya, hingga benjolan kecil tersebut membesar.
"Beliau merasakan semacam ingin flu suara kayak serak-serak,, lama kejadian seperti itu muncul benjolan kecil pada leher, dan benjolan tersebut lama kelamaan mulai membesa," Ujar Nur Resky sahabat Aini.
Menurut Aini, saat benjolan di lehernya semakin membesar Aini masih menganggap benjolan besar tersebut sebagai penyakit biasa meski benjolan telah  membuat berat badannya menurun dan  Ia tetap kuliah.
Setelah penyakitnya semakin berat perempuan kelahiran Sinjai ini melakukan pengobatan herbal dengan dokter dan berobat di kampung halamannya. Namun tak membuahkan hasil hingga disarankan oleh dokter untuk melakukan operasi.
Sampai saat ini Aini telah di operasi dua kali. Operasi pertama operasi leher bagian kiri di salah satu Rumah sakit di jawa setelah operasi leher sebelah kanan ikut membengkak hingga akhirnya berobat ke RS. Wahidin dan kemudian dipindahkan di RS. Faisal untuk dioperasi untuk ketiga kalinya.
Kondisi Aini saat ini semakin memprihatinkan, badannya semakin mengecil, lehernya semakin membengkak hingga ke kepalanya. Rambutnya juga rontok. Saat ini Aini telah menggunakan alat bantu pernafasan.
"Keadaan sekarang badan mengecil,  leher sampai ke kepala membegkak. Foto kemarin di krimkan dia sudah di bantu pernafasan," tutup sahabat Aini.
Memprihatinkannya kondisi Aini, oleh karna itu seluruh Lembaga Mahasiwa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) universitas muhammadiyah makassar melakukan penggalangan dana sebagai bentuk kepedulian untuk membantu biaya pengobatan Aini, meski orang tua Aini tidak pernah menyampampaikan jumlah biaya yang di butuhkan, ketika ditanya oleh teman-teman Aini yang telah menjenguknya di RS.
Kalau  mengenai itu saya kurang tau karena orang tuanya tidak pernah membicarakan tentang hal itu setiap kami jenguk hanya minta selalu di doakan agar Aini sembuh,"
Kami meminta segala bentuk support baik moril maupun biaya dalam pengobatan serta kami dari lembaga sesospol meminta ulur tangan pihak dinas kesehatan provinsi sulawesi selatan maupun dinas kesehatan kabupaten sinjai agar lebih memperhatikan dan membantu dalam segala hal dalam proses operasi dan penyembuhannya untuk saat ini sebagai dinas terkait.

Minggu, 09 Desember 2018

Suara Pribumi

Duka Si Nestapa


Oleh: Meishy Istara Yusuf
(Departemen Bidang Ekonomi Masyarakat)

Berada dalam payung megah, teduh, dan aman dari guyuran hujan yang khidmat, kilat menyapa, dan suara petir yang bernyanyi, membaca makna demi makna dibalik payung yang di katakan rumah adalah istana.

Disana! Ya benar! Di ujung telunjukmu, langit merintih, kemudian menangis terseduh-seduh, lalu tumpah tak bisa menahannya lagi, dia tak punya payung untuk berteduh, celotehan nestapa, duka nestapa terlihat dari rautnya. Sakit, miris, sangat miris, mengiris hati melihat realita yang terjadi.

Lucunya mereka menangis karena realita diri mereka, hasrat ingin memiliki, narasi hidup yang mereka jalani tidak kunjung disyukuri. Mereka lupa nan jauh disana maupun di sekitar masih ada si dia yang ingin, yang mempunyai secerca harapan tentang roman muka kemenangan untuk bisa seperti mereka bahkan melampaui mereka. Ego yang berkubang, apatis menjadi-jadi.

Dengan berani mereka bilang prihatin, iba, nyata-nyatanya toh tidak pernah meneteskan air mata untuknya, hanya bualan manis kepalsuan.

Memalukan sebuah kata maaf untuk dua dunia yang berbeda, yang dipandang sebagai pengecualian untuk dirinya. Harapannya harus dia dapatkan namun tembok besar diperhadapkannya. Adakah si manusia di luar sana memikirkan itu?

Tidak ada! Penonton!, hanya bisa duduk, menulis cerita tentang si nestapa, ataupun membisu. Apakah mereka tahu? Tentu, mereka tahu tapi hanya terfokus menata hidup.

Dia lahir di atas buain tumpahan keringat, asa dalam peluh, diasuh di dalam pelukan kesusahan, tumbuh di dalam rumah-rumah yang dilahirkan oleh ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Masa depan yang dicakar-cakar, di koyak oleh  tipu muslihat kapitalisme.

Hai sejarah, apa kabarmu? Apakah kau baik-baik saja? Apakah kedatanganmu sekedar hanya melihat mereka yang hanya memenuhi hasrat rakus itu?.

Daratan itu, wilayah yang mereka tinggali sekarang hanya menjadi saksi bisu harapan sejarah tentang cita-cita kemanusiaan.

Bahkan kemarin seperti itu! Apakah kau rela?

Dia berdarah, mengalir dari luka-luka yang ada di kepala, dada, tangan, kaki, dia menjerit, berteriak minta tolong.

Selamatkan aku, tolong aku, kasihanilah aku, aku terinjak, aku ditindas, aku sekarat. 

Jangan tinggalkan aku, aku mengenalmu, kau tau siapa aku.

Aku adalah saudaramu, adikmu yang kau katakan si gelandangan itu yang tak punya payung tempat untuk bernaung, aku yang biasa kau lihat di emperan kios, di bahu jalanan, itu aku!, adikmu yang menggenggam tissue, koran, manisan, bermain dengan alat musik yang terbuat dari tutup botol, betul aku si dia yang kau abaikan.

Dekatlah, dekat lah padaku kita adalah saudara dari sipejuang sejarah kelam.sentuh aku, jangan tinggalkan aku, jika kau tinggalkan niscaya aku akan mati.

Kau tau si dia itu, yang kau sebut si gelandangan, si pengemis, dengan raut wajahnya yang aneh hanya mengisyaratkan ketulusan yang di balut oleh muslihat yang dipoles kekuatan kehidupan.

Kau tau saudaraku musuh lama dan penyebab kezaliman adalah egoisme dan lupa.

Kau tau saudaraku tidak ada kalimat buatku bahwa roda akan tetap berputar.

Bisakah kau berhenti sejenak? Sebentar saja, temani aku, tolong berhenti!, berhenti dengan kesibukanmu mempercantik dan menghias diri dengan harta, tahta, dan kekuasaan. Setidaknya berikan aku senyuman.

Mereka ayah ibu kami dimana? Mereka sibuk tidak bisa diganggu, sibuk memperbaiki tatanan dunia, sibuk mengganti apa yang menjadi kehendaknya.

Aku melihatnya melintas di taman bermainku, lewat kemudian berhenti dengan angkuh dan sombong seolah-olah sangkakala, memandangiku dengan mata yang tidak punya rasa kemanusiaan. Punya hati ka mereka? Berkhotbah dan bertitah pemberdayaan, siapa yang diberdayakan? Sanak saudara, teman?, punya kewenangan tapi melakukan penyelewengan.


Lihat aku, yang di ujung telunjuk mu, gemetar, yang disana.

Tapi aku yang tak lagi asing bagimu, yang kau anggap sebagai pembuat kekacaun, kita yang seperti langit dan bumi. Ketika aku menghampiri mu, lalu kau tutup matamu, aku berdiri dihadapanmu meminta secuil rejeki.

Hati teriris, baju kumuh dibasahi oleh hujatanmu.

Dia pelindung dimana kau? Aku ingin minta tolong jangan buang aku dari gemerlapnya era.

Kau sibuk belajar politik, ekonomi, filsafat tentang kearifan dan kebijaksanaan, apakah ayah ibuku bijaksana kepadaku?
Kau sibuk belajar matematika, fisika, ekonomi, ilmu pasti, apakah hidup si nestapa itu pasti?

Jika ayah ibu kami lupa, tolong ingatkan mereka bahwa lebih banyak kebenaran kehidupan yang belum dilihat oleh matanya.

Tanyakan pada dia, aku punya rumah beratapan langit yang megah, bulan sebagai penerang, bintang penghias kemelaratan, bumi sebagai alas yang setia kepada kami, dingin menusuk kami.

Billahi fii sabililhaq
Fastabiqul khairat....

Assalamu'alaikum Warohmatulahi wabarokatuh

05 Desember 2018

Menjelang Pesta Demokrasi

Dear Pemilu 2019                                      Oleh: Rayu Ati (Departemen Bidang Hikmah Pikom IMM Fisip Unismuh Mak...