Minggu, 16 Desember 2018

Kajian IMMawati


IMMAWATI TAK SEKEDAR GELAR


Pemateri : Kakanda Halima Tihurua

    IMMawati adalah sebuah gelar yang didapatkan seorang perempuan yang telah dikader di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
    IMMawati adalah gelar putri yang telah didapatkan setelah Darul Arqam Dasar (DAD).

Apa itu gelar *IMMawati* ?

    Gelar itu bukan hanya sekedar gelar tapi sebuah amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
    IMMawati adalah amanah yang harus dijaga. Sebagai seorang perempuan (IMMawati) kita harus mampu menjaga diri kita sendiri.
Seperti:

1. Dalam bersosial media 
     Sebagai IMMawati alangkah baiknya  menjadi pengguna sosial media yang bijak serta menggunakan sosial media sebagai ladang dakwah dan ladang pahala. 
2. Batasan-batasan pergaulan.   
    Sudah diatur dalam agama, pandai-pandailah dalam memilih teman.
3. Mempunyai kepekaan yang tinggi.
    Seperti membantu teman dalam keadaan senang maupun dalam keadaan susah.
4. Sering membaca buku 
     Dengan Membaca kita dapat menambah pengetahuan, karena jelas berbeda cara berbicara orang yang berilmu degan orang yang tidak berilmu.

*KESIMPULAN* :
1. Layakkanlah diri kita sebagai seorang IMMawati jika ingin dihargai 
2. Dengan menjaga gelar IMMawati maka tentu kalian menjaga diri kalian , keluarga serta nama baik ikatan dan perserikatan.


Billahifii sabililhaq
Fastabiqul khairat...

Kamis, 13 Desember 2018

Semangat Untuk Aini



Aini mahasiswa asal sinjai kena kanker kelenjar tiroid mematikan 

Nuraini (21) mahasiwa Ilmu Adminitrasi Negara (Adn) angkatan 2015 Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar dirawat di ICU Rumah Sakit (RS) Faisal karena diserang penyakit mematikan, kanker tiroid.
Nuraini biasa disapa Aini diserang Kanker Tiroid sejak awal semester 5.
Awal Aini diserang penyakit ini, selalu ingin flu, suaranya serak dan terdapat benjolan kecil di lehernya, hingga benjolan kecil tersebut membesar.
"Beliau merasakan semacam ingin flu suara kayak serak-serak,, lama kejadian seperti itu muncul benjolan kecil pada leher, dan benjolan tersebut lama kelamaan mulai membesa," Ujar Nur Resky sahabat Aini.
Menurut Aini, saat benjolan di lehernya semakin membesar Aini masih menganggap benjolan besar tersebut sebagai penyakit biasa meski benjolan telah  membuat berat badannya menurun dan  Ia tetap kuliah.
Setelah penyakitnya semakin berat perempuan kelahiran Sinjai ini melakukan pengobatan herbal dengan dokter dan berobat di kampung halamannya. Namun tak membuahkan hasil hingga disarankan oleh dokter untuk melakukan operasi.
Sampai saat ini Aini telah di operasi dua kali. Operasi pertama operasi leher bagian kiri di salah satu Rumah sakit di jawa setelah operasi leher sebelah kanan ikut membengkak hingga akhirnya berobat ke RS. Wahidin dan kemudian dipindahkan di RS. Faisal untuk dioperasi untuk ketiga kalinya.
Kondisi Aini saat ini semakin memprihatinkan, badannya semakin mengecil, lehernya semakin membengkak hingga ke kepalanya. Rambutnya juga rontok. Saat ini Aini telah menggunakan alat bantu pernafasan.
"Keadaan sekarang badan mengecil,  leher sampai ke kepala membegkak. Foto kemarin di krimkan dia sudah di bantu pernafasan," tutup sahabat Aini.
Memprihatinkannya kondisi Aini, oleh karna itu seluruh Lembaga Mahasiwa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) universitas muhammadiyah makassar melakukan penggalangan dana sebagai bentuk kepedulian untuk membantu biaya pengobatan Aini, meski orang tua Aini tidak pernah menyampampaikan jumlah biaya yang di butuhkan, ketika ditanya oleh teman-teman Aini yang telah menjenguknya di RS.
Kalau  mengenai itu saya kurang tau karena orang tuanya tidak pernah membicarakan tentang hal itu setiap kami jenguk hanya minta selalu di doakan agar Aini sembuh,"
Kami meminta segala bentuk support baik moril maupun biaya dalam pengobatan serta kami dari lembaga sesospol meminta ulur tangan pihak dinas kesehatan provinsi sulawesi selatan maupun dinas kesehatan kabupaten sinjai agar lebih memperhatikan dan membantu dalam segala hal dalam proses operasi dan penyembuhannya untuk saat ini sebagai dinas terkait.

Minggu, 09 Desember 2018

Suara Pribumi

Duka Si Nestapa


Oleh: Meishy Istara Yusuf
(Departemen Bidang Ekonomi Masyarakat)

Berada dalam payung megah, teduh, dan aman dari guyuran hujan yang khidmat, kilat menyapa, dan suara petir yang bernyanyi, membaca makna demi makna dibalik payung yang di katakan rumah adalah istana.

Disana! Ya benar! Di ujung telunjukmu, langit merintih, kemudian menangis terseduh-seduh, lalu tumpah tak bisa menahannya lagi, dia tak punya payung untuk berteduh, celotehan nestapa, duka nestapa terlihat dari rautnya. Sakit, miris, sangat miris, mengiris hati melihat realita yang terjadi.

Lucunya mereka menangis karena realita diri mereka, hasrat ingin memiliki, narasi hidup yang mereka jalani tidak kunjung disyukuri. Mereka lupa nan jauh disana maupun di sekitar masih ada si dia yang ingin, yang mempunyai secerca harapan tentang roman muka kemenangan untuk bisa seperti mereka bahkan melampaui mereka. Ego yang berkubang, apatis menjadi-jadi.

Dengan berani mereka bilang prihatin, iba, nyata-nyatanya toh tidak pernah meneteskan air mata untuknya, hanya bualan manis kepalsuan.

Memalukan sebuah kata maaf untuk dua dunia yang berbeda, yang dipandang sebagai pengecualian untuk dirinya. Harapannya harus dia dapatkan namun tembok besar diperhadapkannya. Adakah si manusia di luar sana memikirkan itu?

Tidak ada! Penonton!, hanya bisa duduk, menulis cerita tentang si nestapa, ataupun membisu. Apakah mereka tahu? Tentu, mereka tahu tapi hanya terfokus menata hidup.

Dia lahir di atas buain tumpahan keringat, asa dalam peluh, diasuh di dalam pelukan kesusahan, tumbuh di dalam rumah-rumah yang dilahirkan oleh ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Masa depan yang dicakar-cakar, di koyak oleh  tipu muslihat kapitalisme.

Hai sejarah, apa kabarmu? Apakah kau baik-baik saja? Apakah kedatanganmu sekedar hanya melihat mereka yang hanya memenuhi hasrat rakus itu?.

Daratan itu, wilayah yang mereka tinggali sekarang hanya menjadi saksi bisu harapan sejarah tentang cita-cita kemanusiaan.

Bahkan kemarin seperti itu! Apakah kau rela?

Dia berdarah, mengalir dari luka-luka yang ada di kepala, dada, tangan, kaki, dia menjerit, berteriak minta tolong.

Selamatkan aku, tolong aku, kasihanilah aku, aku terinjak, aku ditindas, aku sekarat. 

Jangan tinggalkan aku, aku mengenalmu, kau tau siapa aku.

Aku adalah saudaramu, adikmu yang kau katakan si gelandangan itu yang tak punya payung tempat untuk bernaung, aku yang biasa kau lihat di emperan kios, di bahu jalanan, itu aku!, adikmu yang menggenggam tissue, koran, manisan, bermain dengan alat musik yang terbuat dari tutup botol, betul aku si dia yang kau abaikan.

Dekatlah, dekat lah padaku kita adalah saudara dari sipejuang sejarah kelam.sentuh aku, jangan tinggalkan aku, jika kau tinggalkan niscaya aku akan mati.

Kau tau si dia itu, yang kau sebut si gelandangan, si pengemis, dengan raut wajahnya yang aneh hanya mengisyaratkan ketulusan yang di balut oleh muslihat yang dipoles kekuatan kehidupan.

Kau tau saudaraku musuh lama dan penyebab kezaliman adalah egoisme dan lupa.

Kau tau saudaraku tidak ada kalimat buatku bahwa roda akan tetap berputar.

Bisakah kau berhenti sejenak? Sebentar saja, temani aku, tolong berhenti!, berhenti dengan kesibukanmu mempercantik dan menghias diri dengan harta, tahta, dan kekuasaan. Setidaknya berikan aku senyuman.

Mereka ayah ibu kami dimana? Mereka sibuk tidak bisa diganggu, sibuk memperbaiki tatanan dunia, sibuk mengganti apa yang menjadi kehendaknya.

Aku melihatnya melintas di taman bermainku, lewat kemudian berhenti dengan angkuh dan sombong seolah-olah sangkakala, memandangiku dengan mata yang tidak punya rasa kemanusiaan. Punya hati ka mereka? Berkhotbah dan bertitah pemberdayaan, siapa yang diberdayakan? Sanak saudara, teman?, punya kewenangan tapi melakukan penyelewengan.


Lihat aku, yang di ujung telunjuk mu, gemetar, yang disana.

Tapi aku yang tak lagi asing bagimu, yang kau anggap sebagai pembuat kekacaun, kita yang seperti langit dan bumi. Ketika aku menghampiri mu, lalu kau tutup matamu, aku berdiri dihadapanmu meminta secuil rejeki.

Hati teriris, baju kumuh dibasahi oleh hujatanmu.

Dia pelindung dimana kau? Aku ingin minta tolong jangan buang aku dari gemerlapnya era.

Kau sibuk belajar politik, ekonomi, filsafat tentang kearifan dan kebijaksanaan, apakah ayah ibuku bijaksana kepadaku?
Kau sibuk belajar matematika, fisika, ekonomi, ilmu pasti, apakah hidup si nestapa itu pasti?

Jika ayah ibu kami lupa, tolong ingatkan mereka bahwa lebih banyak kebenaran kehidupan yang belum dilihat oleh matanya.

Tanyakan pada dia, aku punya rumah beratapan langit yang megah, bulan sebagai penerang, bintang penghias kemelaratan, bumi sebagai alas yang setia kepada kami, dingin menusuk kami.

Billahi fii sabililhaq
Fastabiqul khairat....

Assalamu'alaikum Warohmatulahi wabarokatuh

05 Desember 2018

Rabu, 28 November 2018

AKSI KEMANUSIAAN PEMBERDAYAAN ANAK JALANAN PIKOM IMM FISIP UNISMUH MAKASSAR



Makassar, PIKOM IMM FISIP UNISMUH MAKASSAR Bekerja Sama dengan KPAJ (Komunitas Peduli Anak Jalanan) Menggelar Aksi Kemanusiaan yakni Pemberdayaan Anak Jalanan di Kecamatan Maggala Kota Makassar (28/11/2018)

Aksi Kemanusiaan ini bertujuan untuk memenuhi hak-hak anak dan penanaman nilai-nilai spriritual, Intelektual, dan Humanitas. Ada beberapa item-item kegiatan mulai dari materi ibadah dan praktek, belajar mengaji, Motivasi untuk memantik semangat, kerajinan tangan, bedah film, makan bersama, dan follow up dari materi-materi yang telah di berikan

Kegiatan ini di selenggarakan atas dasar inisiatif Bidang SPM (Sosial Pemberdayaan Masyarakat) bersama dengan teman-teman pengurus Pikom IMM Fisip Unismuh Makassar lainnya melihat mirisnya realitas anak-anak yang pada umumnya membutuhkan pendidikan yang layak tetapi terbatas oleh ekonomi yang tidak mumpuni dan kurangnya perhatian pemerintah terhadap anak-anak yang membutuhkan ruang pendidikan. "Mereka butuh pendidikan agar mereka sadar akan pntingnya pendidikan" Ungkap Rival (Ketua Bidang SPM Pikom IMM Fisip Unismuh makassar) dalam pernyataan ketua Umum Pikom IMM Fisip Unismuh Makassar (Muh. Khalifah P.H.W) juga mengatakan "Ini merupakan bentuk pengejewantahan daripada tri kompetensi dasar IMM salah satu bentuknya adalah peberdayaan anak jalanan agar mereka dapat merasakan nikmatnya sekolah walaupun sesaat"

Menurut salah satu pembina dari KPAJ (Marta) mengatakan biasanya mereka bisa kita jumpai berada di lampu merah pengayoman menjual jual tisu dan semacamnya hanya untuk mencari sesuap nasi dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Lanjut tungkasnya " harapan kami semoga adek-adek minimal dapat mengubah segi perilakunya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari binaan-binaannya dan apa yang biasa anak-anak normal dapatkan mereka juga dapatkan kerena hak mereka harus terpenuhi." Tuturnya. Pemberdayaan anak jalanan ini sifatnya berkelanjutan dari pekan ke pekan.

Kamis, 22 November 2018

Dialog interaktif "Buta literasi tidak sama dengan mahasiswa"


Makassar, Pimpinan komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah FISIP UNISMUH Makassar Mengadakan Dialog Literasi dan Bazar Sekaligus Launching KOPI (Komunitas Pecinta Ilmu) di Warkop Cappo Jl. Sultan Alauddin (22/11/2018)



Dialog dengan tema "Buta Literasi tidak sama dengan Mahasiswa"  Bertujuan untuk menghidupkan semangat literasi di kalangan mahasiswa yakni membaca, menulis, dan berdiskusi yang di narasumberi langsung oleh komunitas muara literasi I Makkacici (Founder muara literasi) Abd. Ghafur S.Sos (Ketua DPD IMM SULSEL bidang Hikmah) dan Hilda Hafid (Pegiat Literasi) ini mengharapkan agar sejatinya mahasiswa adalah mereka yang mampu untuk melakukan perubahan dengan membaca dan menulis karena melihat realitas literasi yang sejauh ini semakin di abaikan dengan adanya tampilan-tampilan media yang semakin bertransformasi beriringan dengan perkembangan zaman tentunya hal inilah yang kemudian mendegradasi dan mengubah mansed berfikir mahasiswa hari ini sehingga ruang-ruang diskusi menjadi semakin sempit.

Seperti yang di ungkap oleh founder muara literasi (I Makkacici) " gagasan yang cerdas lahir dari forum-forum diskusi kecil, tetapi memiliki visi yang besar, sekiranya penkajian ini harus terus di gaungkan untuk melahirkan kaum cendekiawan yang mampu membawa perubahan serta memberi sumbangsi pemikiran yang besar untuk bangsa dan negara" Tungkasnya.

Senin, 19 November 2018

Eksistensi Kaum Muda

PEMUDA DAN PAHLAWAN MASA KINI ?

Wiwi Febri Purwanti
(Departemen Bidang Media dan Komunikasi)


17 Agustus adalah hari kemerdekaan Indonesia. Tepatnya 73 tahun yang lalu, rakyat Indonesia pada saat itu mati-matian tumpah dara berjuang untuk kemerdekaan yang bisa kita nikmati sekang ini. Sangat beruntung kita sebagai anak bangsa yang kemudian lahir setelah Indonesia berhasil direbut kembali dari tangan  para penjajah yang telah menjajah kita selama 350 tahun. Bagaimana kita membayangkan para pahlawan terdahulu kita yang berjuang dengan bambu runcingnya melawan para penjajah, jika kita pikir bagaimana mungkin sebuah bambu runcing dapat mengusir para penjajah dengan berbagai perlengkapan canggihnya, tapi kemudian fakta sejarah mencatat faktor kemenangan para pahlawan terdahulu dikarenakan kebersatuan dan kegigihan tanpa mngenal kata mustahil untuk kemerdekaan bagi tanah airnya, hanya untuk bangsanya semata. Untuk itu setiap tanggal 17 Agustus kita mengadakan upacara penaikan bendera yang menjadi symbol kemerdekaan bangsa Indonesia dan pada tanggal tersebut pula kita kembali mengenang para pahlawan kita yang rela gugur demi kemerdekaan Indonesia.
Seiring dengan pergantian zaman serta kondisi ditengah masyarakaat, sosok seperti apa yang pantas dan patut menyandang kata pahlawan? Ir. Soekarno adalah sosok yang begitu fenomenal bagi rakyat Indonesia maupun dunia, beliau pernah berkata “Beri aku 1.000 orang tua niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncang dunia”. Harus kita akui bahwa setiap perubahan besar yang terjadi dibumi pertiwi ini selalu dimotori oleh gerakan para pemuda, salah satunya yang sangat mencolok ketika perang melawan penjajah demi merebut kemerdekaan, lahirnya Budi Utomo diera kebangkitann Nasional, kemudian gerakan anti KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) di era reformasi dan masih banyak gerakan lainnya.
Begitu banyak fakta sejarah yang  bisa kita katakan bahwa pemuda sangat memiliki peran sentral terhadap eksistensi dalam kehidupan nasional bangsa indoneisa. Apakah pahlawan masa kini harus sama dengan pahlawan kita terdahulu? Kita bisa mempelajari bagaimana keberanian, pantang menyerah, rela berkorban, kebersatuannya tetapi pahlawan masa kini bukan lagi mereka yang memanggul senjata serta berperang melawan penjajah (agresor).
Anak muda bisa menjadi pahlawan ketika lewat kemauan dan kemampuannya terus berkarya bagi bangsa. Betapapun kecilnya sumbangan kita untuk ibu pertiwi asal kita tulus sebagai bukti kecintaan kita untuk bangsa dan Negara, sosok tersebut layak disebut sebagai pahlawan. Mantan presiden Amerika Serikat Jhon F. Kennedy dalam kutipannya:
“jangan tanyakan apa yang Negara berikan padamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu”.

Selama seseorang menjunjung tinggi nilai-nilai universal seperti kedamaian, kebaikan serta kebenaran walaupun harus dilakukan dengan perjuangan serta mereka yang menolong sesama tanpa ingin menikmati kata tenar semata artinya mereka yang dengan tulus memanusiakan manusia. Agama menganjurkan pula kita untuk tidak melakukan tindakan kemungkaran, seperti dalam Qs. Al-Maidah;2:
“Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan taqwa dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya.
Tentunya peran-peran seperti inilah yang patut kita lakukan saat ini dengan intelaktual yang kita miliki serta bagaimana memanfaatkan berbagai fasilitas teknologi yang dapat memajukan bangsa Indonesia, peran pemuda bukan hanya dapat kengkritisi peran pemerintah semata dengan aksinya turun kejalan, melainkan bagimana kita membantu pemerintah untuk menjaga bangsa kita dengan mengatasnamakan kepedulian serta cinta tanah air, tentu dengan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari maka dia layak disebut sebagai pemuda sekaligus pahlawan masa kini.
Yang jelas pahlawan masa kini adalah setiap orang yang mencintai dan menghargai  perdamaian bangsa Indonesia yang penuh keberagaman baik suku, agama, ras, serta antar golongan, serta ingin bekerja keras memberikan dan mengharumkan bangsanya dimata dunia.
Mari kita bersama-sama menjaga bangsa kita yang diperjuangkan dari keringat darah oleh para leluhur kita terdahulu(pahlawan).

#immberadab
#bergerakdanberjuang
#fastabiqulkhairat

Minggu, 11 November 2018

Stop Eksploitasi Perempuan


BERANTAS EKSPLOITASI PEREMPUAN 

(Rangkuman hasil Kajian IMMawati Unismuh)


Penulis : Bidang IMMawati Pikom IMM Fisip (2018/2019)

Perempuan adalah makhluk yang semestinya dimuliakan, Mengutip salah satu hadist mengatakan “sebaik-baik perhiasan adalah perempuan soleha”. Perempuan merupakan salah satu patron suatu Negara seperti kata Soekarno bahwa Perempuan adalah tiangnya Negara jika perempuannya baik maka baiklah Negara itu, jika perempuannya rusak maka rusaklah Negara itu.
Kita ketahui bersama bahwa Indonesia adalah negara yang penduduknya mayoritas Islam, namun bisa kita lihat fenomena saat ini , begitu banyaknya kasus eksploitasi yang dilakukan kepada anak-anak dan perempuan, begitu menyedihkan terlebih lagi anak-anak yang merupakan regenerasi bangsa memiliki hak untuk dilindungi, hak untuk memperoleh pendidikan terabaikan begitu saja. Lantas, mengamati hal ini apakah kita hanya tinggal diam menyaksikan? Bagaimana tindakan pemerintah?
Begitu banyak kasus eksploitasi yang terjadi,  baik yang ditayangkan oleh media maupun secara langsung, hingga menyebabkan kekerasan fisik, seksual, hingga berdampak pada psikologis perasaan tertekan, takut yang berlebiha dan lain sebagainya.
Namun saat ini semuanya seakan dianggap sebagai hal yang biasa saja , ada yang peka namun tak sadar juga, ada yang sadar namun hanya memilih tinggal diam padahal mengutip salah satu kata “ Jika diam adalah masalah maka bergerak adalah solusinya”
Dalam buku Tugas Cendekiawan Muslim yang ditulis oleh Ali Syariati mengatakan bahwa saat ini kita berada dizaman yang menipu , hal-hal yang buruk seakan terlihat biasa saja dan bahkan dianggap baik-baik saja karena pandainya manusia dalam membungkus masalah-masalah dengan sangat baik.
Allah berfirman dalam Q.S.Al-Imran;110 bahwa salah satu tujuan manusia diciptakan sebagai khalifah fil ardh untuk beramar ma’ruf nahi munkar, ini berarti bahwa kita diciptakan untuk menjadi solusi terhadap setiap masalah yang tampak dihadapan kita, ketika kita tinggal diam berarti sam saja kita menyetujui dan mendukung hal tersebut yang pada akhirnya kita akan sama-sama menanggung dosanya. 
Terdapat berbagai macam solusi untuk mengatasi masalah eksploitasi terlebih lagi kita sebagai perempuan patutlah berperan dalam memberantas minimal terlebih dahulu berusaha memperbaiki dan menjaga diri sebagai benteng dalam menghadapi realitas yang terjadi.
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah hadir sebagai solusi sebagai organisasi gerakan amar ma’ruf nahi munkar yang tertuang didalam salah satu karya seorang kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah buku Manifesto Gerakan Intelektual Profetik menurut Kuntowijoyo fungsi kita sebagai manusia atau kader Intelektual Profetik dibagi menjadi 3 aspek :
Humanisasi ialah terjemahan kreatif dari amar ma’ruf yang memiliki makna asal menganjurkan atau menegakkan kebaikan
Liberasi ialah merupakan terjemahandari nahi munkar yang memiliki arti melarang atau mencegah segala tindakan kejahatan, pembebasan terhadap yang termarjinalkan dan 
Transendensi merupakan terjemahan dari tu’minuna billah yang berarti beriman kepada Allah, proses memanusiakan manusia dan melakukan proses pembebasan merupaka sarana untuk kembali kepada Tuhan, demikian tugas kita sebagai mahasiswa intelektual profetik versi Kuntowijoyo.

Ketika kita kontekstualkan terhadap berbagai macam masalah eksploitasi yang ada saat ini terkhusus di Indonesia, gerakan humanisasi, liberasi dan transendensi sangatlah diperlukan, ketika terjadi  penindasan terhadap perempuan sudah menjadi kewajiban dan keharusan bagi kita untuk berada digarda terdepan bergerak memberantas hal tersebut, ketika realitas perempuan saat ini sudah jauh dengan nilai-nilai islam dan ajaran rasulullah dan kebanyakan orang hanya diam atau bahkan menjadi bagian dari masalah tersebut  maka patutlah bagi kita mengajak mereka untuk peka dan sadar bersama-sama bergerak menjadi solusi dan yang terpenting segala gerakan yang kita lakukan niat, usaha hingga hasil kembalikan kepada sang kuasa yang maha menghendaki.

Billahii fii sabililhaq
Fastabiqul khaerat...

Sabtu, 10 November 2018

Polemik Dinamika Kampus


Eksistensi IMM Dalam Menyikapi Polemik Dinamika Kampus


Ketika dunia kampus berhasil di sulap menjadi jagat hiburan. Disaat yang bersamaan, para petinggi kampus tercinta seakan buta huruf terhadap kritikan mahasiswa dalam bentuk tulisan. Dan diwaktu yang sama pula, pimpinan tertinggi kampus seakan tak mau melakukan perjumpaan dengan para aktivis kemahasiswaan. Maka mindset mahasiswa harus selangkah lebih maju dalam melakukan penuntutan melalui aksi massa secara rasional mengenai hilangnya tupoksi sebuah instansi perguruan tinggi yang notabenenya sebagai ladang pendidikan bagi mahasiswa yang kini berhasil di poles menjadi panggung hiburan dan wadah bisnis oleh kebanyakan tenaga pengajar di dalamnya.

Berbagai kebijakan yang tidak transparan dan dilaksanakan tidak tepat sasaran sehingga dimanipulasi idealisme mahasiswa yang tiap harinya tersistem dengan rasionalitas birokrasi menjadi rasa totaliter hedonis . Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagai organisasi otonom Muhammadiyah atau badan legislator dalam lingkup ke-Muhammadiyahan yang memiliki visi terbentuknya akademisi islam yang berakhlak mulia dalam mencapai tujuan Muhammadiyah, tentu memiliki peran besar dalam menyikapi kebijakan kampus yang dinamis. 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagai anak yang dibesarkan oleh Muhammadiyah itu sendiri seharusnya sudah menjadi kewajiban bagi setiap kadernya untuk sigap mengawal dan meluruskan segala langkah tindak-tanduk atau kebijakan yang irasional dan anomali mahasiswa. Dikarenakan setiap polemik dinamika kampus khususnya di ranah Universitas Muhammadiyah Makassar akan menjadi tanggung jawab dan tanggung gugat dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dalam menentukan sikap dan eksistensinya serta apa yang telah ia tanamkan dalam kader ikatan.

Billahii fii sabililhaq
Fastabiqul Khaerat...

Penulis : Kader IMM Fisip Unismuh Makassar

Jumat, 09 November 2018

Gejolak IMMawati Dalam Tubuh Ikatan

Gejolak IMMawati Dalam Tubuh Ikatan



Reski Nur Amalia
(Departemen Bidang Hikmah)

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh berbuat yang ma’ruf, dan mencegah yang mungkar, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana” (at-taubah:71)

Berangkat dari surah At-Taubah ayat 71 diatas, maka Allah SWT telah memberikan jaminan dan kedudukan yang sama antara perempuan dan laki-laki, terkait hak dan kewajiban mereka untuk menjalankan kesamaan tugasnya dalam memeluk agama Islam. Laki-laki dan perempuan dalam beriman sama-sama menegakkan agama dengan amar ma’ruf, menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan dalam hidup bermasyarakat. Serta nahi munkar atau mencegah pada kemungkaran yang dapat merusak ketentraman dan merusak akhlak masyarakat.

Globalisasi yang semakin menggerogoti dunia akhirnya berhasil menggenjot jagat kehidupan berubah 360 derajat. Bukan hanya eksploitasi terhadap perempuan, di zaman yang super modern ini atau orang-orang menyebutnya zaman now, agama pun menjadi bahan eksploitasi bagi oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Belum lagi hoax yang beredar dimana-mana, drama panggung perpolitikan yang setiap hari episodenya semakin di manipulasi oleh birokrat, dan pertarungan pilpres yang mengandalkan humanitasnya untuk menduduki kursi tertinggi. Dengan begitu banyaknya pergolakan politik yang tiada habisnya, disinilah peran seorang mahasiswa apatah lagi mahasiswa organisatoris termasuk kader IMM di dalamnya. Ketika Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah berada di tengah huru-hara politik, ekonomi, dan budaya serta dinamika zaman yang tidak menentu dan begitu banyak tantangan, maka harapan kepada para kader perempuan dalam ranah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah atau kerap disebut sebagai IMMawati baik yang berada di dalam maupun di luar struktural, semuanya sebenarnya diikat oleh posisi dan doktrin mendasar yang sama yakni sebagai kader IMM yang hadir dan dilahirkan untuk mengemban misi gerakan amar ma’ruf nahi mungkar serta membumikan visi intelektualitas, spiritualitas, dan humanitas dari IMM itu sendiri. Bagi IMMawati sebagai kader intelektual IMM yang telah dilahirkan dari kampus, maka seyogyanya menjadi prioritas untuk mengabdikan diri dan berperan sebagai lokomotif perubahan. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagai organisasi modern, dalam prosesnya pun tak dapat mengelakkan diri tentang hak-hak perempuan termasuk dalam hal kepemimpinan. Bagi IMM, kaum perempuan yang dalam bahasa internalnya disebut IMMawati memang sangatlah istimewa dengan diberikan porsi dan kedudukan jika dilihat secara struktural dengan adanya bidang khusus IMMawati (Bidang IMMawati) dari pusat hingga komisariat. Namun, walau begitu ternyata masih banyak IMMawati yang seakan tidak paham dengan kedudukannya. Setelah mengikuti proses Darul Arqam Dasar sebagai jenjang kekaderan pertama dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, seorang yang biasa di sapa sebagai perempuan maka memiliki gelar tambahan yaitu IMMawati sebagai tanda bahwa ia adalah kader perempuan dari IMM itu sendiri. Namun, ketika melirik pada fakta yang ada. Gelar IMMawati bisa dikatakan hanya sebatas gelar tanpa makna. Mengapa ? Seorang IMMawati yang seharusnya menjadi patron penggerak, namun langkahnya dipijakkan kearah yang berbelok dari notabenenya sebagai seorang kader IMM. Banyak ketimpangan terjadi dalam dunia perempuan yang katanya IMMawati, mulai dari model pakaian hingga jumlah alat makeup yang dimiliki atau berapa banyak tumpukan baju yang dibelinya setiap saat. Seperti halnya yang dikatakan oleh Soe Hok Gie, bahwasanya “Perempuan akan selalu berada di bawah laki-laki ketika yang diurusinya hanyalah baju dan kecantikan.” Berangkat dari kutipan ini, banyak IMMawati yang kehilangan jati diri mereka. Namun tak sedikit juga IMMawati yang sadar akan tugas dan fungsinya sebagai seorang kader IMM apatah lagi sebagai patron penggerak dalam jantung Ikatan. Namun, lebih dari pada itu peran IMMawati terhambat karena konstruksi sosial yang telah lama terbangun menempatkan IMMawati dalam konteks ruang yang terbatas, dan IMMawan ada dalam ruang-ruang kerjasama yang besar. Berbicara tentang peran IMMawati tidak terlepaskan dari seputar gerakan IMM secara umum dan gerakan feminisme khususnya. Dalam tradisi berbagai agama, kebudayaan maupun tradisi paradigma IMM, IMMawati dipandang sebagai Warga Ikatan yang dinomor duakan, dibawah IMMawan-IMMawan. Padahal secara kultural IMMawati berhak menjadi pimpinan dan tingkat kewajiban maupun pendidikan yang sama. Namun yang masih nampak sampai sekarang, IMMawati yang notabene adalah IMMawati dianggap berperan dibelakang layar sebagai pendukung semua kiprah IMMawan-IMMawan yang menjadi pimpinan tanpa ada penegasan untuk keluar dari paradigma tersebut. Demikian tradisi dan doktrin kader IMM yang sebagian menempatkan IMMawati dalam porsi yang berbeda dari IMMawan. Hal ini tentu bisa dilihat dari dua faktor. Pertama dari sisi IMMawan yang seringkali mengesampingkan peran seorang IMMawati dalam berbagai hal permasalahan di tubuh ikatan. Kedua progresifitas IMMawati yang rendah membuat IMMawati seringkali hanya terdiam tidak lantang dalam meyuarakan suaranya. Hal-hal demikian harus dirombak agar tidak terjadi peneggalaman jati diri pada seorang IMMawati. Sosok IMMawati harus memperbanyak literasi agar mereka tidak jauh tertinggal dari IMMawan. Disamping itu, IMMawati harus mampu mendekonstruksi atau membekali diri dan menjadi aktor perubahan dalam pusaran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

 

Billahii Fii Sabililhaq

Fastabiqul Khaerat....

Kamis, 08 November 2018

Peran Kader IMM Dalam Gejolak Degradasi Moral Bangsa


Peran Kader IMM Dalam Gejolak Degradasi Moral Bangsa 

By : Rusliadi
(Sekretaris Bidang Hikmah/ Jenderal SKB IV)


Sudah 73 tahun Negara republik Indonesia telah merdeka setelah diproklamirkan oleh bung karno pada tanggal 17 agustus 1945 silam. Begitu banyak tetesan air mata, tumpahan darah mengalir deras membasahi tanah air,yang berasal dari tubuh pahlawan yang terkoyak-koyak oleh kebengisan para penjajah. Mengutip perkataan bung karno “perjuanganku akan jauh lebih mudah karena melawan penjajah, dan perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”. jika menelisik dari perkataan bung karno itu, jika kita bandingkan dengan problematika yang terjadi di bangsa kita itu benar adanya. Berbagai persoalan yang menyelimuti pertiwi, seperti penyalahgunaan kekuasaaan (korupsi, kolusi, dan nepotisme), ketidakadilan ekonomi, penguasaan ekonomi oleh asing yang diluar batas,ancaman narkotika, pengangguran, hutang luar negeri yang semakin membengkak, menjamurnya tenaga kerja asing illegal, LGBT,pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan, kebhinekaan atau persatuan kita yang mulai terkerus dan hal-hal lainnya, merupakan pekerjaan rumah bersama yang menjadi tanggung jawab semua elemen bangsa dan dicarikan jalan keluarnya, termasuk IMM didalamnya. Karena sangat jelas yang tertuang dalam Nilai Dasar Ikatan (NDI) bahwa,” segala bentuk ketidakadilan, kesewenang-wenangan dan kemungkaran adalah lawan besar gerakan IMM, perlawanan terhadapnya adalah kewajiban setiap kader IMM.”
Dalam sejarah pergerakan mahasiswa, gerakan moral mahasiswa tidak akan terpisah dari lingkungan kondisi politik yang melingkupinya. Setidaknya ada dua hal yang mendasari: pertama, agent of change atau agen perubahan, yang melekat karena didasari oleh para kaum muda khususnya mahasiswa untuk menentang secara naluriah dari segala bentuk kebijakan yang tidak pro dengan rakyat. Kedua, masyarakat dari berbagai elemen yang merupakan objek dari setiap  kebijakan publik, yang banyak berharap kepada pergerakan mahsiswa yang netral supaya aspirasi mereka bisa tersampaikan terhadap pemerintah tanpa harus melaui partai politik, dan lain-lain. Kondisi seperti bisa dikatakan sebagai simbiosis mutualisme antara mahasiswa dan elemen masyarakat. Tapi terkadang orisinalitas pergerakan mahasiswa kini mulai terkikis oleh maraknya predator demonstran, yang mempunyai kepentingan, bukan lagi gerakan mahasiswa yang murni dari seruan moral. 
Seiring dengan laju zaman dan arus perubahan sosial bagaikan petir yang menyambar, saat ini mahasiswa terlebih kader IMM tengah berdiri dalam kondisi kebangsaan yang tidak kalah akut dan sulitnya dibandingkan dengan apa yang terjadi di orde lama, orde baru dan pasca reformasi. Persoalan demi persoalan datang menerpa menggrogoti bangsa dan Negara kita. Krisis dan degradasi moral kini bagaikan virus yang menjangkit seluruh aspek kehidupan bernegara seperti, ekonomi, politik, hukum dan kehidupan sosial pada umumnya. Kondisi seperti ini tidak boleh dibiarkan saja, karena ini akan berakibat fatal dn krusial apabila bangsa dan Negara kita terjerembab dalam kondisi yang semakin liar.
Jika melihat realitas yang terjadi sekarang, degradai moral sangat mencengangkan dan membuat mata terbelalak dengan peristiwa yang di alami oleh bangsa kita. Undang-undang dasar 1945 dan pancasila tak terlalu diindahkan, masyarakat kini hamper kehilangan identitas mereka, agama kini dibenturkan dengan persoalan politik oleh sang pemangku kebijakan sehingga terjadi gejolak ditengah tengah masyarakat. Semboyan Indonesia sebagai bangsa dan Negara hukum yang pancasialis dan agamis kini mulai luntur. Kepercayaan rakyat terhadap sang pemangku kebijakan kini mulai mengalami erosi kepercayaan akibat ulah mereka sendiri. hampir seluruh instansi pemerintahan kini sudah pernah dicyduk oleh aparat penegak hukum terkait dengan kasus korupsi,kolusi dan nepotisme. Perilaku biadab seperti itu bagaikan sebuah kewajiban yang harus dilakukan oleh mereka yang seperti orang kesetanan. Keserakahan merampok hak rakyat dan memenuhi dahaga mereka yang dibutakan oleh materi, kebijakan demi kebijakan dikeluarkan yang nyaris tak menguntungkan rakyat banyak. Sementara diluar sana masih banyak anak-anak yang merupakan harapan bangsa terputus jenjang pendidikannya akibat ulah dari segelintir elit yang tak tahu malu.
BPS mencatat pada tahun 2018 bahwa masih ada sekitar 9,82 % atau 25,95 juta yang dibawah angka kemiskinan di Indonesia, dan angka pengangguran di Indonesia sekitar 6,87 juta orang.  Dan kemudian Indonesia corruption watch (ICW) mencatat pada tahun lalu ada sekitar 1.381 terdakwa kasus korupsi yang merugikan Negara mencapai 29,41 triliun, dan anehnya mereka hanya di vonis rata-rata 2 tahun 2 bulan. Ini tidak akan terlalu memberikan efek yang signifikan bagi koruptor itu sendiri, apalagi ada beberapa koruptot yang di sidak oleh awak media, memiliki kamar khusus di lapas. Jika kita kaitkan antara kasus korupsi dan angka kemiskinan serta pengangguran, ibarat system ini saling berkaitan satu sama lain, karena angka kerugian Negara yang harusnya diberikan kepada rakyat demi tercapainya sila ke lima dalam pancasila itu tidak terlaksana akibat manusia yang serakah akan materi, parahnya lagi ketika mereka sudah tertangkap basah melakukan tipikor, dan keluar dari gedung kpk dengan mengenakan rumpi orange, bagaikan orang yang tak bersalah mereka sempat-sempatnya melambaikan tangan ke awak media, ini membuktikan bahwa mereka telah putus urat malunya. Pemerintah dan penegak hukum pun seakan-akan masa bodoh dengan hal itu, atau mungkin ada permainan mata diantara mereka, wallau’alam. 
Seakan-akan hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah, kalaupun ada seseorang yang menentang kebijkan mereka, seperti yang dilakukan oleh mahasiswa pada umumnya, mereka dibungkam dengan senjata laras panjang, mereka menyiapkan tameng yang mengenakan seragam dan memegang senjata gas air mata. Untuk itu mungkin sudah terlalu lama rakyat menderita, saatnya mahasiswa mulai bangkit dari tidur lelapnya untuk menyuarakkan suara-suara kebenaran dari langit, khususnya kader IMM, desain dan konstruk dirimu dari sekarang untuk menjadi pemimpin di masa depan untuk menggantikan pemimpin dan elit penguasa yang dzolim. Karena di IMM kita telah diajarkan sejak awal akan eksistensi dari seorang mahasiswa sebagai penyambung lidah masyrakat dan menjadi tombak perdaban yang siap menumpas kemunafikan di negeri yang tercinta ini.

wassalam

IMM Sebagai Pamong Gerakan Mahasiswa




IMM Sebagai Pamong Gerakan Mahasiswa

By : Reski Nur Amalia



Panggung pergerakan mahasiswa hari ini semakin kehilangan taringnya. Hilang wibawa dan jati diri mereka. Pergerakan mereka telah semakin jauh berbelok meninggalkan nilai-nilai yang harusnya mereka bawa. Sejarah telah mencatat, dari mulai munculnya Kebangkitan Nasional hingga tragedi 1998, mahasiswa selalu menjadi garda terdepan dalam mengawal demokrasi di Indonesia. Sebut saja gerakan mahasiswa pada masa penjajahan Belanda, Jepang, masa pemberontakan PKI, masa orde lama, hingga masa orde baru dengan gerakan reformasinya, peran mahasiswa tidak pernah absen dalam catatan peristiwa penting tersebut. Sayangnya, cerita dunia mahasiswa kadang di padu padankan dengan kemewahan seperti kebanyakan cerita di ftv. Jauh dari esensinya sebagai mahasiswa, di dunia nyata lebih pelik dari alur sinetron. Mahasiswa lupa akan tupoksinya sebagai patron perubahan, mereka hanya sibuk memperbanyak tempat untuk sekedar berfoya-foya. Globalisasi menjadi pengaruh perilaku gaya hidup modern dimana pemenuhan kebutuhan mahasiswa tampak condong ke hedonisme. Jika hedonisme mulai merembes di kampus bisa dilihat akan terdapat banyak mahasiswa dengan gaya K-Popnya yang sangat mudah ditemui mulai dari model gaya hidupnya. Hal tersebut menjadi hal yang mampu memperburuk perpolitikan dalam lingkup kampus. Kehadiran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dalam dunia kemahasiswaan menjadi ladang aksi untuk mengekspresikan tingkat kepekaan seorang mahasiswa terhadap intergritas kebangsaan yang mulai pudar dalam diri seorang mahasiswa pada umumnya. Dalam tubuh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah tertanamkan jiwa-jiwa yang kemudian akan melekat pada aktivis mahasiswa IMM yaitu spiritualitas, humanitas, dan intelektualitas. Dalam kerangka strategis gerakan Muhammadiyah, IMM merupakan tunas muda Muhammadiyah pada jalur organisasi otonom. Visi identitas dan konsepsi gerakan IMM merepresentasikan kepedulian gerakan sosial Muhammadiyah pada wilayah kemahasiswaan. Sinergitas gerakan ini mencerminkan proses transmisi intelektual kolektif, baik pada arah konsepsi organisasi maupun pada ranah perkembangan masyarakat kampus. Pada eksistensinya, IMM menjadi wadah khusus untuk mengembangkan potensi para mahasiswa. Melirik dari tujuannya yaitu terbentuknya akademisi islam yang berakhlak mulia guna mencapai tujuan Muhammadiyah. Kata terbentuknya akademisi islam yang berakhlak mulia merupakan suatu gambaran seorang kader ikatan dalam mengaktualisasikan dirinya pada masyarakat.Yang nampak terlihat bahwasanya permasalahan mahasiswa sekarang yang dibesarkan adalah kelompoknya sendiri ideologi organisasinya sendiri selalu dikotomi, bahkan kebanyakan ada yang tidak menghiraukan dan mengingat mahasiswa adalah insan akademis. Pergerakannya sulit untuk disatukan, yang sana selalu tidak setuju dengan kelompok sini bahkan pertarungan ideologi membuat kontroversi. Begitu juga yang non aktivis, masti tidak menghiraukan akan kondisi yang ada. Namun pada hakekatnya, mahasiswa harus kembali kepada tugas pokok dan fungsinya.

Wassalam.....

Menjelang Pesta Demokrasi

Dear Pemilu 2019                                      Oleh: Rayu Ati (Departemen Bidang Hikmah Pikom IMM Fisip Unismuh Mak...