Rabu, 30 Januari 2019

Gerakan Pembaharu


KEPEMIMPINAN

Penulis: Nur Aqsah (Departemen Bidang Media dan Komunikasi)

Pemimpin ialah seseorang yang menggunakan kemampuannya, sikapnya, nalurinya, dan ciri-ciri kepribadiannya yang mampu menciptakan suatu keadaan, sehingga orang lain yang dipimpinnya dapat saling bekerja sama untuk mencapai tujuan.
Kepemimpinan adalah kemampuan seorang pemimpin untuk mengendalikan, memimpin, mempengaruhi fikiran, perasaan atau tingkah laku orang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Kepemimpinan itu wajib ada, baik secara syar’i ataupun secara ‘aqli. Adapun secara syar’i misalnya tersirat dari firman Allah tentang doa orang-orang yang selamat :  “Dan jadikanlah kami sebagai imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertaqwa” [QS Al-Furqan : 74].  Demikian pula firman Allah :  “Taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasul dan para ulil amri diantara kalian” [QS An-Nisaa’ : 59]. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang sangat terkenal : “Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap dari kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya”. Terdapat pula sebuah hadits yang menyatakan wajibnya menunjuk seorang pemimpin perjalanan diantara tiga orang yang melakukan suatu perjalanan. Adapun secara ‘aqli, suatu tatanan tanpa kepemimpinan pasti akan rusak dan porak poranda.Dari pengertian diatas jelas bahwa pemimpin menurut pandangan Islam tidak hanya menjalankan roda pemerintahan begitu saja namun seorang pemimpin harus mewajibkan kepada rakyatnya untuk melaksanakan apa saja yang terdapat dalam syariat Islam walaupun bukan beragama Islam. Serta mempengaruhi rakyatnya untuk selalu mengikuti apa yang menjadi arahan dari seorang pemimpin. Seorang pemimpin harus memiliki sifat-sifat, yaitu :
Shiddiq (selalu berkata dan bersikap jujur dan benar). Bukan hanya perkataannya yang benar, tapi juga perbuatannya juga benar. Sejalan dengan ucapannya. Shiddiq sebagai modal dasar. Pertama-tama penyampai amanah harus punya sifat jujur, kalau tidak , maka dia gugur sebagai penyampai.
Amanah (dapat dipercaya) : Jika satu urusan diserahkan kepadanya, niscaya orang percaya bahwa urusan itu akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Tidak pernah menggunakan wewenang dan otoritasnya  sebagai pemimpin untuk kepentingan pribadinya atau kepentingan keluarganya,
Fathonah (cerdas dan bijaksana) : Seorang calon pemimpin haruslah memiliki kecerdasan, baik secara emosional (EQ), spiritual (SQ) maupun intelektual (IQ).
Tabligh (penyampai) dapat berkomunikasi dengan baik : artinya menyampaikan kebenaran kepada orang lain. Walaupun kita masih memiliki sifat jelek, kita wajib menyampaikan kebenaran. Untuk menyampaikan ini tidak perlu kita harus suci terlebih dahulu.
Tipe dan Gaya Kepemimpinan
Gaya artinya sikap, gerakan, tingkah laku, sikap yang elok, gerak-gerik yang bagus, kekuatan, kesanggupan untuk berbuat baik. Sedangkan gaya kepemimpinan adalah sekumpulan ciri yang digunakan pimpinan untuk mempengaruhi bawahan agar sasaran organisasi tercapai. 
Gaya kepemimpinan yang menunjukkan, secara langsung dan tidak langsung, tentang keyakinan seorang pemimpin terhadap kemampuan bawahannya. Artinya, gaya kepemimpinan adalah prilaku dan strategi, sebagai hasil kombinasi dari falsafah, keterampilan, sifat, sikap, yang sering diterapkan seorang pemimpin ketika ia mencoba mempengaruhi kinerja bawahannya.
1. Tipe Kepemimpinan Karismatik
Dalam kepemimpinan karismatik memiliki energi, daya tarik dan wibawa yang luar biasa untuk mempengaruhi orang lain, sehingga ia mempunyai pengikut yang sangat besar jumlahnya dan pengawal-pengawal yang bisa dipercaya. 
2. Tipe Paternalistis
Yaitu tipe kepemimpinan kebapakan, dengan sifat-sifat antara lain sebagai berikut:
Menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak/belum dewasa, atau anak-anak sendiri yang perlu dikembangkan.
Bersikap terlalu melindungi (overly protective).
Jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengambil keputusan sendiri.
Hampir-hampir tidak pernah memberikan kesempatan kepada bawahan untuk berinisiatif.
Tidak memberikan atau hampir-hampir tidak pernah memberikan kesempatan kepada pengikut dan bawahan untuk mengembangkan imajinasi dan daya kreativitas mereka sendiri.
 Selalu bersikap maha-tahu dan maha benar.
3. Tipe Militeristis
Tipe ini bersifat kemiliteran, namun hanya gaya luaran saja yang mencontoh militer. Tetapi jika dilihat lebih seksama, tipe ini mirip sekali dengan tipe kepemimpinan otoriter 
4. Tipe Otokratis
Kepemimpinan ini mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan yang mutlak dan harus dipenuhi. Pemimpin selalu mau berperan sebagai pemain tunggal. Pada a one man show, dia sangat berambisi untuk merajai situasi. 
5. Tipe Laissez Faire
Pada tipe kepemimpinan laissez faire ini sang pemimpin praktis tidak memimpin, dia membiarkan kelompoknya dan setiap orang berbuat semau sendiri. Pemimpin tidak berpartisipasi sedikit pun dalam kegiatan kelompoknya. Semua pekerjaan dan tanggung jawab harus dilakukan oleh bawahan sendiri. Dia merupakan pemimpin simbol, dan biasanya tidak memiliki keterampilan teknis sebab duduknya sebagai direktur atau pemimpin ketua dewan, komandan, atau kepala biasanya diperoleh melalui penyogokan, suapan atau sistem nepotisme.
6. Tipe Populistis
Kepemimpinan populistis ini berpegang teguh kepada nilai-nilai masyarakat tradisional. Juga kurang mempercayai dukungan kekuatan serta bantuan hutang-hutang luar negeri (asing). 
7. Tipe Administratif atau Eksekutif
Kepemimpinan tipe administratif ialah kepemimpinan yang mampu menyelenggarakan tugas-tugas administrasi secara efektif. 
8. Tipe Demokratis
Kepemimpinan demokratis berorientasi pada manusia, dan memberikan bimbingan yang efisien kepada para pengikutnya.


Billahi fii sabililhaq..
Fastabiqul khairat.. 

Rabu, 16 Januari 2019


SEJARAH PERGERAKAN PEREMPUAN


Penulis: Rayu Ati (Departemen Bidang Hikmah)

     Dalam ilmu filsafat, pergerakan dibagi menjadi dua gerakan yaitu subtansial dan aksidental. 
Subtansial adalah gerakan memperbaiki diri atau kesadaran diri. Dimana dalam gerakan ini adalah 
gerakan hati yang menyadari akan kebenaran yang ada pada akan sesuatu hal, misalnya ketika 
mendengar adzan terdengar maka ada berupa bisikan dalam diri untuk melaksanakan perintah sholat 
dalam adzan tersebut. Kemudian aksidental adalah gerakan berupa tindakan atau implementasi dari 
subtansial, ketika sudah menyadari maka lakukan dengan tindakan, karena percuma sering datang 
mendengar ceramah di masjid, mendengar ceramah di yo tube tapi dalam pelaksanaan dari ilmu yang di 
dapat tak pernah ada.
    Sebagaimana yang telah digerakkan oleh kaum perempuan di zaman sebelum merdeka dan 
setelah merdeka, begitu banyak pergerakan yang dilakukan dalam meluruskan ketimpangan-
ketimpangan dari perlakuan pembedaan antara laki-laki dan perempuan, dimana perempuan hanya di 
kenal sebagai makhluk yang lemah, makhluk yang tak bisa disetarakan dengan laki-laki. Ternyata ada 
banyak tokoh-tokoh perempuan yang memperlihatkan bahwa perempuan juga setara dengan laki-laki 
yaitu di sejarah gerakan perempuan di barat, zaman Rasulullah, dan di Indonesia.
1. Sejarah pergerakan perempuan di Barat
Di Barat pertama kali diperkenalkan gerakan feminisme yaitu gerakan penyetaraan antara laki-
laki dan perempuan, tokoh perempuan yang memperjuangkan gerakan tersebut yaitu Betty Frieden 
sebagai pejuang feminisme.
2. Sejarah pergerakan perempuan di Zaman Rasulullah SAW
Gerakan perempuan dilakukan oleh istri Rasulullah yaitu Aisyah r.a, yang telah memimpin 
perang untuk membelah agama Allah SWT setelah nabi Muhammad SAW wafat dan Aisyahlah yang 
melanjutkan perjuangan islam pada saat itu.
3. Sejarah pergerakan perempuan di Indonesia
Di Indonesia ada banyak tokoh-tokoh perempuan yang terkenal akan gerakannya yaitu R.A 
Kartini, Cut Nyak Dien, dan Dewi Sartika, dimana Kartini adalah tokoh perempuan yang 
memperkenalkan gerakan emansipasi perempuan, dimana perempuan Indonesia pada saat itu 
pendidikannya masih berbeda dengan laki-laki, pada zaman itulah Kartini memperkenalkan gerakan 
bahwa perempuan juga berhak memperoleh pendidikan, bahkan Kartini mendirikan sekolah untuk 
perempuan. Cut Nyak Dien memimpin perang di Aceh setelah Teuku Umar suaminya wafat.
Dari tokoh-tokoh perempuan yang terkenal akan pergerakannya maka sudah sepatutnya 
seorang perempuan merasa berpikir bahwa tak selamanya laki-laki menjadi pemimpin karena baik 
laki-laki maupun perempuan masing-masing sudah diberi potensi masing-masing tergantung 
seberapa besar pergerakannya untuk mengubah dan memperjuangkan yang menjadi tujuan hidup.


Billahi fii sabililhaq
Fastabiqul khairat

Selasa, 08 Januari 2019

SKI Jilid III




PIKOM IMM FISIP MENGGELAR KEGIATAN SEKOLAH IMMAWATI III

Makassar | Pimpinan Komisariat ikatan mahasiswa Muhammadiyah Fakultas ilmu sosial dan ilmu politik menyambut awal tahun dengan menggelar kegiatan sekolah Immawati dengan tema "Ekspansi Gerakan IMMawati untuk Kepemimpinan IMM yang Beradab". Kegiatan ini dilaksanakan di Tanjung Bayang, Jum'at-Minggu (4-6 Januari 2019)

Kegiatan ini dihadiri oleh dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Dr.Hj.Ihyani Malik, S.Sos., M.Si., salah satu dosen Ilmu Pemerintahan Nur Khaerah, serta beberapa kakanda PC, DPD dan PP IMM yang hadir memberikan materi dalam kegiatan SKI III.

Kegiatan ini resmi dibuka bersama dengan penyerahan nama2 peserta sekolah Immawati kepada tim fasilitator oleh ketua umum Pikom IMM Fisip Khalifah P.H.W kepada koordinator Fasilitator Anggraini.

Dalam sambutannya ketua umum memaparkan harapan output dari pelaksanaan ski III ini berangkat dari tema dapat melahirkan kader2 Immawati yang militan, paham dan sadar akan perannya sebagai seorang perempuan yang menyandang gelar Immawati baik dilingkup komisariat maupun kelak berada diluar, mampu melakukan gerakan ekspansi berperan dalam dunia sosial, ekonomi, politik melalui trikompetensi sebagai identitas kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

Kegiatan sekolah IMMawati ini merupakan salah satu program kerja bidang Immawati yang sudah merupakan angkatan ketiga. Sekolah Immawati ini pertama kali diadakan dimasa kepemimpinan Apriyanti Partiwi dan di angkatan kedua dimasa kepemimpinan Arwan Rahman.

Nur Fadilah Ketua Bidang IMMawati Pikom IMM Fisip memaparkan harapan capaian dari sekolah IMMawati III ini harapan komisariat dan tim konseptor dapat melahirkan kader2 Immawati yang paham akan kepemimpinan seorang perempuan dan memahami perannya untuk kemudian mampu melakukan gerakan ekspansi melihat kondisi di era Milenial saat ini yang semakin tidak bersahabat.


Billahi fii sabililhaq
Fastabiqul Khairat...

#immfisipberadab #sekolahimmawati

Menjelang Pesta Demokrasi

Dear Pemilu 2019                                      Oleh: Rayu Ati (Departemen Bidang Hikmah Pikom IMM Fisip Unismuh Mak...