Minggu, 09 Desember 2018

Suara Pribumi

Duka Si Nestapa


Oleh: Meishy Istara Yusuf
(Departemen Bidang Ekonomi Masyarakat)

Berada dalam payung megah, teduh, dan aman dari guyuran hujan yang khidmat, kilat menyapa, dan suara petir yang bernyanyi, membaca makna demi makna dibalik payung yang di katakan rumah adalah istana.

Disana! Ya benar! Di ujung telunjukmu, langit merintih, kemudian menangis terseduh-seduh, lalu tumpah tak bisa menahannya lagi, dia tak punya payung untuk berteduh, celotehan nestapa, duka nestapa terlihat dari rautnya. Sakit, miris, sangat miris, mengiris hati melihat realita yang terjadi.

Lucunya mereka menangis karena realita diri mereka, hasrat ingin memiliki, narasi hidup yang mereka jalani tidak kunjung disyukuri. Mereka lupa nan jauh disana maupun di sekitar masih ada si dia yang ingin, yang mempunyai secerca harapan tentang roman muka kemenangan untuk bisa seperti mereka bahkan melampaui mereka. Ego yang berkubang, apatis menjadi-jadi.

Dengan berani mereka bilang prihatin, iba, nyata-nyatanya toh tidak pernah meneteskan air mata untuknya, hanya bualan manis kepalsuan.

Memalukan sebuah kata maaf untuk dua dunia yang berbeda, yang dipandang sebagai pengecualian untuk dirinya. Harapannya harus dia dapatkan namun tembok besar diperhadapkannya. Adakah si manusia di luar sana memikirkan itu?

Tidak ada! Penonton!, hanya bisa duduk, menulis cerita tentang si nestapa, ataupun membisu. Apakah mereka tahu? Tentu, mereka tahu tapi hanya terfokus menata hidup.

Dia lahir di atas buain tumpahan keringat, asa dalam peluh, diasuh di dalam pelukan kesusahan, tumbuh di dalam rumah-rumah yang dilahirkan oleh ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Masa depan yang dicakar-cakar, di koyak oleh  tipu muslihat kapitalisme.

Hai sejarah, apa kabarmu? Apakah kau baik-baik saja? Apakah kedatanganmu sekedar hanya melihat mereka yang hanya memenuhi hasrat rakus itu?.

Daratan itu, wilayah yang mereka tinggali sekarang hanya menjadi saksi bisu harapan sejarah tentang cita-cita kemanusiaan.

Bahkan kemarin seperti itu! Apakah kau rela?

Dia berdarah, mengalir dari luka-luka yang ada di kepala, dada, tangan, kaki, dia menjerit, berteriak minta tolong.

Selamatkan aku, tolong aku, kasihanilah aku, aku terinjak, aku ditindas, aku sekarat. 

Jangan tinggalkan aku, aku mengenalmu, kau tau siapa aku.

Aku adalah saudaramu, adikmu yang kau katakan si gelandangan itu yang tak punya payung tempat untuk bernaung, aku yang biasa kau lihat di emperan kios, di bahu jalanan, itu aku!, adikmu yang menggenggam tissue, koran, manisan, bermain dengan alat musik yang terbuat dari tutup botol, betul aku si dia yang kau abaikan.

Dekatlah, dekat lah padaku kita adalah saudara dari sipejuang sejarah kelam.sentuh aku, jangan tinggalkan aku, jika kau tinggalkan niscaya aku akan mati.

Kau tau si dia itu, yang kau sebut si gelandangan, si pengemis, dengan raut wajahnya yang aneh hanya mengisyaratkan ketulusan yang di balut oleh muslihat yang dipoles kekuatan kehidupan.

Kau tau saudaraku musuh lama dan penyebab kezaliman adalah egoisme dan lupa.

Kau tau saudaraku tidak ada kalimat buatku bahwa roda akan tetap berputar.

Bisakah kau berhenti sejenak? Sebentar saja, temani aku, tolong berhenti!, berhenti dengan kesibukanmu mempercantik dan menghias diri dengan harta, tahta, dan kekuasaan. Setidaknya berikan aku senyuman.

Mereka ayah ibu kami dimana? Mereka sibuk tidak bisa diganggu, sibuk memperbaiki tatanan dunia, sibuk mengganti apa yang menjadi kehendaknya.

Aku melihatnya melintas di taman bermainku, lewat kemudian berhenti dengan angkuh dan sombong seolah-olah sangkakala, memandangiku dengan mata yang tidak punya rasa kemanusiaan. Punya hati ka mereka? Berkhotbah dan bertitah pemberdayaan, siapa yang diberdayakan? Sanak saudara, teman?, punya kewenangan tapi melakukan penyelewengan.


Lihat aku, yang di ujung telunjuk mu, gemetar, yang disana.

Tapi aku yang tak lagi asing bagimu, yang kau anggap sebagai pembuat kekacaun, kita yang seperti langit dan bumi. Ketika aku menghampiri mu, lalu kau tutup matamu, aku berdiri dihadapanmu meminta secuil rejeki.

Hati teriris, baju kumuh dibasahi oleh hujatanmu.

Dia pelindung dimana kau? Aku ingin minta tolong jangan buang aku dari gemerlapnya era.

Kau sibuk belajar politik, ekonomi, filsafat tentang kearifan dan kebijaksanaan, apakah ayah ibuku bijaksana kepadaku?
Kau sibuk belajar matematika, fisika, ekonomi, ilmu pasti, apakah hidup si nestapa itu pasti?

Jika ayah ibu kami lupa, tolong ingatkan mereka bahwa lebih banyak kebenaran kehidupan yang belum dilihat oleh matanya.

Tanyakan pada dia, aku punya rumah beratapan langit yang megah, bulan sebagai penerang, bintang penghias kemelaratan, bumi sebagai alas yang setia kepada kami, dingin menusuk kami.

Billahi fii sabililhaq
Fastabiqul khairat....

Assalamu'alaikum Warohmatulahi wabarokatuh

05 Desember 2018

13 komentar:

  1. πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
  2. Tingkatkan dan teruslah berproses dinda semoga makin sukses😊

    BalasHapus
  3. Saya Tak bisa Berkata Panjang Lagi Ini Sangat Keren, Sangat Sangat Luar Bias

    BalasHapus
  4. πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
  5. Wahh kerenn.. Semangat terus Sisi dalam berkarya. Miss you sahabatku

    BalasHapus
  6. Mantaaaaab banget, terussss berkarya nak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku selalu bernyanyi dengan suara yg merdu,iringan musik yang tak pernah sumbang. Kaki tetap melangkah selama masih bernafas, dalam langkah tak pernah kaki yang menentukannya.semogah saja suara merdu menyatu dengan dengan sikapku yg mengobati,semogah saja gerak langkah kaki tetap pada jalur fitrah kesucian bukan hanya sampai pada hari ini saja. Hari ini,esok,bahkan berpuluh-puluh tahun kedepan aku tetap sama unutuk menyuarakan itu

      Hapus
  7. Tidak ada garis finish untuk berlari menuju keberhasilan, takkan habis tinta untuk terus berkarya, tak ada tembok yang dapat menghalangi pandangan yang visioner.
    Semoga tidak merasa puas dengan tulisan ini yah Sisi...

    Abadi Perjuangan dari PK IMM Hajjah Nuriyah Shabran

    BalasHapus
  8. Wynn casino opens in Las Vegas - FilmfileEurope
    Wynn's first hotel casino microtouch solo titanium in Las Vegas since opening its doors in 1996, Wynn Las nbaλ§€λ‹ˆμ•„ Vegas is ventureberg.com/ the first hotel on the 좜μž₯μ•ˆλ§ˆ Strip to offer such https://septcasino.com/review/merit-casino/ a large selection of

    BalasHapus

Menjelang Pesta Demokrasi

Dear Pemilu 2019                                      Oleh: Rayu Ati (Departemen Bidang Hikmah Pikom IMM Fisip Unismuh Mak...