SEJARAH PERGERAKAN PEREMPUAN
Dalam ilmu filsafat, pergerakan dibagi menjadi dua gerakan yaitu subtansial dan aksidental.
Subtansial adalah gerakan memperbaiki diri atau kesadaran diri. Dimana dalam gerakan ini adalah
gerakan hati yang menyadari akan kebenaran yang ada pada akan sesuatu hal, misalnya ketika
mendengar adzan terdengar maka ada berupa bisikan dalam diri untuk melaksanakan perintah sholat
dalam adzan tersebut. Kemudian aksidental adalah gerakan berupa tindakan atau implementasi dari
subtansial, ketika sudah menyadari maka lakukan dengan tindakan, karena percuma sering datang
mendengar ceramah di masjid, mendengar ceramah di yo tube tapi dalam pelaksanaan dari ilmu yang di
dapat tak pernah ada.
Sebagaimana yang telah digerakkan oleh kaum perempuan di zaman sebelum merdeka dan
setelah merdeka, begitu banyak pergerakan yang dilakukan dalam meluruskan ketimpangan-
ketimpangan dari perlakuan pembedaan antara laki-laki dan perempuan, dimana perempuan hanya di
kenal sebagai makhluk yang lemah, makhluk yang tak bisa disetarakan dengan laki-laki. Ternyata ada
banyak tokoh-tokoh perempuan yang memperlihatkan bahwa perempuan juga setara dengan laki-laki
yaitu di sejarah gerakan perempuan di barat, zaman Rasulullah, dan di Indonesia.
1. Sejarah pergerakan perempuan di Barat
Di Barat pertama kali diperkenalkan gerakan feminisme yaitu gerakan penyetaraan antara laki-
laki dan perempuan, tokoh perempuan yang memperjuangkan gerakan tersebut yaitu Betty Frieden
sebagai pejuang feminisme.
2. Sejarah pergerakan perempuan di Zaman Rasulullah SAW
Gerakan perempuan dilakukan oleh istri Rasulullah yaitu Aisyah r.a, yang telah memimpin
perang untuk membelah agama Allah SWT setelah nabi Muhammad SAW wafat dan Aisyahlah yang
melanjutkan perjuangan islam pada saat itu.
3. Sejarah pergerakan perempuan di Indonesia
Di Indonesia ada banyak tokoh-tokoh perempuan yang terkenal akan gerakannya yaitu R.A
Kartini, Cut Nyak Dien, dan Dewi Sartika, dimana Kartini adalah tokoh perempuan yang
memperkenalkan gerakan emansipasi perempuan, dimana perempuan Indonesia pada saat itu
pendidikannya masih berbeda dengan laki-laki, pada zaman itulah Kartini memperkenalkan gerakan
bahwa perempuan juga berhak memperoleh pendidikan, bahkan Kartini mendirikan sekolah untuk
perempuan. Cut Nyak Dien memimpin perang di Aceh setelah Teuku Umar suaminya wafat.
Dari tokoh-tokoh perempuan yang terkenal akan pergerakannya maka sudah sepatutnya
seorang perempuan merasa berpikir bahwa tak selamanya laki-laki menjadi pemimpin karena baik
laki-laki maupun perempuan masing-masing sudah diberi potensi masing-masing tergantung
seberapa besar pergerakannya untuk mengubah dan memperjuangkan yang menjadi tujuan hidup.
Billahi fii sabililhaq
Fastabiqul khairat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar