Rabu, 16 Januari 2019


SEJARAH PERGERAKAN PEREMPUAN


Penulis: Rayu Ati (Departemen Bidang Hikmah)

     Dalam ilmu filsafat, pergerakan dibagi menjadi dua gerakan yaitu subtansial dan aksidental. 
Subtansial adalah gerakan memperbaiki diri atau kesadaran diri. Dimana dalam gerakan ini adalah 
gerakan hati yang menyadari akan kebenaran yang ada pada akan sesuatu hal, misalnya ketika 
mendengar adzan terdengar maka ada berupa bisikan dalam diri untuk melaksanakan perintah sholat 
dalam adzan tersebut. Kemudian aksidental adalah gerakan berupa tindakan atau implementasi dari 
subtansial, ketika sudah menyadari maka lakukan dengan tindakan, karena percuma sering datang 
mendengar ceramah di masjid, mendengar ceramah di yo tube tapi dalam pelaksanaan dari ilmu yang di 
dapat tak pernah ada.
    Sebagaimana yang telah digerakkan oleh kaum perempuan di zaman sebelum merdeka dan 
setelah merdeka, begitu banyak pergerakan yang dilakukan dalam meluruskan ketimpangan-
ketimpangan dari perlakuan pembedaan antara laki-laki dan perempuan, dimana perempuan hanya di 
kenal sebagai makhluk yang lemah, makhluk yang tak bisa disetarakan dengan laki-laki. Ternyata ada 
banyak tokoh-tokoh perempuan yang memperlihatkan bahwa perempuan juga setara dengan laki-laki 
yaitu di sejarah gerakan perempuan di barat, zaman Rasulullah, dan di Indonesia.
1. Sejarah pergerakan perempuan di Barat
Di Barat pertama kali diperkenalkan gerakan feminisme yaitu gerakan penyetaraan antara laki-
laki dan perempuan, tokoh perempuan yang memperjuangkan gerakan tersebut yaitu Betty Frieden 
sebagai pejuang feminisme.
2. Sejarah pergerakan perempuan di Zaman Rasulullah SAW
Gerakan perempuan dilakukan oleh istri Rasulullah yaitu Aisyah r.a, yang telah memimpin 
perang untuk membelah agama Allah SWT setelah nabi Muhammad SAW wafat dan Aisyahlah yang 
melanjutkan perjuangan islam pada saat itu.
3. Sejarah pergerakan perempuan di Indonesia
Di Indonesia ada banyak tokoh-tokoh perempuan yang terkenal akan gerakannya yaitu R.A 
Kartini, Cut Nyak Dien, dan Dewi Sartika, dimana Kartini adalah tokoh perempuan yang 
memperkenalkan gerakan emansipasi perempuan, dimana perempuan Indonesia pada saat itu 
pendidikannya masih berbeda dengan laki-laki, pada zaman itulah Kartini memperkenalkan gerakan 
bahwa perempuan juga berhak memperoleh pendidikan, bahkan Kartini mendirikan sekolah untuk 
perempuan. Cut Nyak Dien memimpin perang di Aceh setelah Teuku Umar suaminya wafat.
Dari tokoh-tokoh perempuan yang terkenal akan pergerakannya maka sudah sepatutnya 
seorang perempuan merasa berpikir bahwa tak selamanya laki-laki menjadi pemimpin karena baik 
laki-laki maupun perempuan masing-masing sudah diberi potensi masing-masing tergantung 
seberapa besar pergerakannya untuk mengubah dan memperjuangkan yang menjadi tujuan hidup.


Billahi fii sabililhaq
Fastabiqul khairat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menjelang Pesta Demokrasi

Dear Pemilu 2019                                      Oleh: Rayu Ati (Departemen Bidang Hikmah Pikom IMM Fisip Unismuh Mak...