Gejolak IMMawati Dalam Tubuh
Ikatan

Reski Nur Amalia
(Departemen Bidang Hikmah)
“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan
perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka
menyuruh berbuat yang ma’ruf, dan mencegah yang mungkar, melaksanakan shalat,
menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi
rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana” (at-taubah:71)
Berangkat
dari surah At-Taubah ayat 71 diatas, maka Allah SWT telah memberikan jaminan
dan kedudukan yang sama antara perempuan dan laki-laki, terkait hak dan
kewajiban mereka untuk menjalankan kesamaan tugasnya dalam memeluk agama Islam.
Laki-laki dan perempuan dalam beriman sama-sama menegakkan agama dengan amar ma’ruf, menjunjung
tinggi kebenaran dan keadilan dalam hidup bermasyarakat. Serta nahi munkar atau
mencegah pada kemungkaran yang dapat merusak ketentraman dan merusak akhlak
masyarakat.
Globalisasi yang semakin
menggerogoti dunia akhirnya berhasil menggenjot jagat kehidupan berubah 360 derajat.
Bukan hanya eksploitasi terhadap perempuan, di zaman yang super modern ini atau
orang-orang menyebutnya zaman now, agama pun menjadi bahan eksploitasi bagi
oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Belum lagi hoax yang beredar
dimana-mana, drama panggung perpolitikan yang setiap hari episodenya semakin di
manipulasi oleh birokrat, dan pertarungan pilpres yang mengandalkan humanitasnya
untuk menduduki kursi tertinggi. Dengan begitu banyaknya pergolakan politik
yang tiada habisnya, disinilah peran seorang mahasiswa apatah lagi mahasiswa
organisatoris termasuk kader IMM di dalamnya. Ketika Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah berada di tengah
huru-hara politik, ekonomi, dan budaya serta dinamika zaman yang tidak menentu
dan begitu banyak tantangan, maka harapan kepada para kader perempuan dalam
ranah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah atau kerap disebut sebagai IMMawati baik
yang berada di dalam maupun di luar struktural, semuanya sebenarnya diikat oleh
posisi dan doktrin mendasar yang sama yakni sebagai kader IMM yang hadir dan
dilahirkan untuk mengemban misi gerakan amar ma’ruf nahi mungkar serta
membumikan visi intelektualitas, spiritualitas, dan humanitas dari IMM itu
sendiri. Bagi IMMawati sebagai kader intelektual IMM yang telah dilahirkan dari
kampus, maka seyogyanya menjadi prioritas untuk mengabdikan diri dan berperan
sebagai lokomotif perubahan. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagai
organisasi modern, dalam prosesnya pun tak dapat mengelakkan diri tentang
hak-hak perempuan termasuk dalam hal kepemimpinan. Bagi IMM, kaum perempuan
yang dalam bahasa internalnya disebut IMMawati memang sangatlah istimewa dengan
diberikan porsi dan kedudukan jika dilihat secara struktural dengan adanya bidang
khusus IMMawati (Bidang IMMawati) dari pusat hingga komisariat. Namun, walau
begitu ternyata masih banyak IMMawati yang seakan tidak paham dengan
kedudukannya. Setelah mengikuti proses Darul Arqam Dasar sebagai jenjang
kekaderan pertama dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, seorang yang biasa di
sapa sebagai perempuan maka memiliki gelar tambahan yaitu IMMawati sebagai
tanda bahwa ia adalah kader perempuan dari IMM itu sendiri. Namun, ketika
melirik pada fakta yang ada. Gelar IMMawati bisa dikatakan hanya sebatas gelar
tanpa makna. Mengapa ? Seorang IMMawati yang seharusnya menjadi patron penggerak,
namun langkahnya dipijakkan kearah yang berbelok dari notabenenya sebagai
seorang kader IMM. Banyak ketimpangan terjadi dalam dunia perempuan yang
katanya IMMawati, mulai dari model pakaian hingga jumlah alat makeup yang
dimiliki atau berapa banyak tumpukan baju yang dibelinya setiap saat. Seperti
halnya yang dikatakan oleh Soe Hok Gie, bahwasanya “Perempuan akan selalu berada di bawah laki-laki ketika yang diurusinya
hanyalah baju dan kecantikan.” Berangkat dari kutipan ini, banyak IMMawati
yang kehilangan jati diri mereka. Namun tak sedikit juga IMMawati yang sadar
akan tugas dan fungsinya sebagai seorang kader IMM apatah lagi sebagai patron
penggerak dalam jantung Ikatan. Namun, lebih dari pada itu peran IMMawati terhambat
karena konstruksi sosial yang telah lama terbangun menempatkan IMMawati dalam
konteks ruang yang terbatas, dan IMMawan ada dalam ruang-ruang kerjasama yang
besar. Berbicara tentang peran IMMawati tidak terlepaskan dari seputar gerakan
IMM secara umum dan gerakan feminisme khususnya. Dalam tradisi berbagai agama,
kebudayaan maupun tradisi paradigma IMM, IMMawati dipandang sebagai Warga
Ikatan yang dinomor duakan, dibawah IMMawan-IMMawan. Padahal secara kultural
IMMawati berhak menjadi pimpinan dan tingkat kewajiban maupun pendidikan yang
sama. Namun yang masih nampak sampai sekarang, IMMawati yang notabene adalah
IMMawati dianggap berperan dibelakang layar sebagai pendukung semua kiprah
IMMawan-IMMawan yang menjadi pimpinan tanpa ada penegasan untuk keluar dari
paradigma tersebut. Demikian tradisi dan doktrin kader IMM yang sebagian
menempatkan IMMawati dalam porsi yang berbeda dari IMMawan. Hal ini tentu bisa dilihat dari dua faktor. Pertama dari sisi
IMMawan yang seringkali mengesampingkan peran seorang IMMawati dalam berbagai
hal permasalahan di tubuh ikatan. Kedua progresifitas IMMawati yang rendah
membuat IMMawati seringkali hanya terdiam tidak lantang dalam meyuarakan
suaranya. Hal-hal demikian harus dirombak agar tidak terjadi peneggalaman jati
diri pada seorang IMMawati. Sosok IMMawati harus memperbanyak literasi agar
mereka tidak jauh tertinggal dari IMMawan. Disamping itu, IMMawati harus mampu
mendekonstruksi atau membekali diri dan menjadi aktor perubahan dalam pusaran
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.
Billahii Fii Sabililhaq
Fastabiqul Khaerat....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar