Jumat, 09 November 2018

Gejolak IMMawati Dalam Tubuh Ikatan

Gejolak IMMawati Dalam Tubuh Ikatan



Reski Nur Amalia
(Departemen Bidang Hikmah)

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh berbuat yang ma’ruf, dan mencegah yang mungkar, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana” (at-taubah:71)

Berangkat dari surah At-Taubah ayat 71 diatas, maka Allah SWT telah memberikan jaminan dan kedudukan yang sama antara perempuan dan laki-laki, terkait hak dan kewajiban mereka untuk menjalankan kesamaan tugasnya dalam memeluk agama Islam. Laki-laki dan perempuan dalam beriman sama-sama menegakkan agama dengan amar ma’ruf, menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan dalam hidup bermasyarakat. Serta nahi munkar atau mencegah pada kemungkaran yang dapat merusak ketentraman dan merusak akhlak masyarakat.

Globalisasi yang semakin menggerogoti dunia akhirnya berhasil menggenjot jagat kehidupan berubah 360 derajat. Bukan hanya eksploitasi terhadap perempuan, di zaman yang super modern ini atau orang-orang menyebutnya zaman now, agama pun menjadi bahan eksploitasi bagi oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Belum lagi hoax yang beredar dimana-mana, drama panggung perpolitikan yang setiap hari episodenya semakin di manipulasi oleh birokrat, dan pertarungan pilpres yang mengandalkan humanitasnya untuk menduduki kursi tertinggi. Dengan begitu banyaknya pergolakan politik yang tiada habisnya, disinilah peran seorang mahasiswa apatah lagi mahasiswa organisatoris termasuk kader IMM di dalamnya. Ketika Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah berada di tengah huru-hara politik, ekonomi, dan budaya serta dinamika zaman yang tidak menentu dan begitu banyak tantangan, maka harapan kepada para kader perempuan dalam ranah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah atau kerap disebut sebagai IMMawati baik yang berada di dalam maupun di luar struktural, semuanya sebenarnya diikat oleh posisi dan doktrin mendasar yang sama yakni sebagai kader IMM yang hadir dan dilahirkan untuk mengemban misi gerakan amar ma’ruf nahi mungkar serta membumikan visi intelektualitas, spiritualitas, dan humanitas dari IMM itu sendiri. Bagi IMMawati sebagai kader intelektual IMM yang telah dilahirkan dari kampus, maka seyogyanya menjadi prioritas untuk mengabdikan diri dan berperan sebagai lokomotif perubahan. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagai organisasi modern, dalam prosesnya pun tak dapat mengelakkan diri tentang hak-hak perempuan termasuk dalam hal kepemimpinan. Bagi IMM, kaum perempuan yang dalam bahasa internalnya disebut IMMawati memang sangatlah istimewa dengan diberikan porsi dan kedudukan jika dilihat secara struktural dengan adanya bidang khusus IMMawati (Bidang IMMawati) dari pusat hingga komisariat. Namun, walau begitu ternyata masih banyak IMMawati yang seakan tidak paham dengan kedudukannya. Setelah mengikuti proses Darul Arqam Dasar sebagai jenjang kekaderan pertama dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, seorang yang biasa di sapa sebagai perempuan maka memiliki gelar tambahan yaitu IMMawati sebagai tanda bahwa ia adalah kader perempuan dari IMM itu sendiri. Namun, ketika melirik pada fakta yang ada. Gelar IMMawati bisa dikatakan hanya sebatas gelar tanpa makna. Mengapa ? Seorang IMMawati yang seharusnya menjadi patron penggerak, namun langkahnya dipijakkan kearah yang berbelok dari notabenenya sebagai seorang kader IMM. Banyak ketimpangan terjadi dalam dunia perempuan yang katanya IMMawati, mulai dari model pakaian hingga jumlah alat makeup yang dimiliki atau berapa banyak tumpukan baju yang dibelinya setiap saat. Seperti halnya yang dikatakan oleh Soe Hok Gie, bahwasanya “Perempuan akan selalu berada di bawah laki-laki ketika yang diurusinya hanyalah baju dan kecantikan.” Berangkat dari kutipan ini, banyak IMMawati yang kehilangan jati diri mereka. Namun tak sedikit juga IMMawati yang sadar akan tugas dan fungsinya sebagai seorang kader IMM apatah lagi sebagai patron penggerak dalam jantung Ikatan. Namun, lebih dari pada itu peran IMMawati terhambat karena konstruksi sosial yang telah lama terbangun menempatkan IMMawati dalam konteks ruang yang terbatas, dan IMMawan ada dalam ruang-ruang kerjasama yang besar. Berbicara tentang peran IMMawati tidak terlepaskan dari seputar gerakan IMM secara umum dan gerakan feminisme khususnya. Dalam tradisi berbagai agama, kebudayaan maupun tradisi paradigma IMM, IMMawati dipandang sebagai Warga Ikatan yang dinomor duakan, dibawah IMMawan-IMMawan. Padahal secara kultural IMMawati berhak menjadi pimpinan dan tingkat kewajiban maupun pendidikan yang sama. Namun yang masih nampak sampai sekarang, IMMawati yang notabene adalah IMMawati dianggap berperan dibelakang layar sebagai pendukung semua kiprah IMMawan-IMMawan yang menjadi pimpinan tanpa ada penegasan untuk keluar dari paradigma tersebut. Demikian tradisi dan doktrin kader IMM yang sebagian menempatkan IMMawati dalam porsi yang berbeda dari IMMawan. Hal ini tentu bisa dilihat dari dua faktor. Pertama dari sisi IMMawan yang seringkali mengesampingkan peran seorang IMMawati dalam berbagai hal permasalahan di tubuh ikatan. Kedua progresifitas IMMawati yang rendah membuat IMMawati seringkali hanya terdiam tidak lantang dalam meyuarakan suaranya. Hal-hal demikian harus dirombak agar tidak terjadi peneggalaman jati diri pada seorang IMMawati. Sosok IMMawati harus memperbanyak literasi agar mereka tidak jauh tertinggal dari IMMawan. Disamping itu, IMMawati harus mampu mendekonstruksi atau membekali diri dan menjadi aktor perubahan dalam pusaran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

 

Billahii Fii Sabililhaq

Fastabiqul Khaerat....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menjelang Pesta Demokrasi

Dear Pemilu 2019                                      Oleh: Rayu Ati (Departemen Bidang Hikmah Pikom IMM Fisip Unismuh Mak...