Kamis, 08 November 2018

Peran Kader IMM Dalam Gejolak Degradasi Moral Bangsa


Peran Kader IMM Dalam Gejolak Degradasi Moral Bangsa 

By : Rusliadi
(Sekretaris Bidang Hikmah/ Jenderal SKB IV)


Sudah 73 tahun Negara republik Indonesia telah merdeka setelah diproklamirkan oleh bung karno pada tanggal 17 agustus 1945 silam. Begitu banyak tetesan air mata, tumpahan darah mengalir deras membasahi tanah air,yang berasal dari tubuh pahlawan yang terkoyak-koyak oleh kebengisan para penjajah. Mengutip perkataan bung karno “perjuanganku akan jauh lebih mudah karena melawan penjajah, dan perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”. jika menelisik dari perkataan bung karno itu, jika kita bandingkan dengan problematika yang terjadi di bangsa kita itu benar adanya. Berbagai persoalan yang menyelimuti pertiwi, seperti penyalahgunaan kekuasaaan (korupsi, kolusi, dan nepotisme), ketidakadilan ekonomi, penguasaan ekonomi oleh asing yang diluar batas,ancaman narkotika, pengangguran, hutang luar negeri yang semakin membengkak, menjamurnya tenaga kerja asing illegal, LGBT,pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan, kebhinekaan atau persatuan kita yang mulai terkerus dan hal-hal lainnya, merupakan pekerjaan rumah bersama yang menjadi tanggung jawab semua elemen bangsa dan dicarikan jalan keluarnya, termasuk IMM didalamnya. Karena sangat jelas yang tertuang dalam Nilai Dasar Ikatan (NDI) bahwa,” segala bentuk ketidakadilan, kesewenang-wenangan dan kemungkaran adalah lawan besar gerakan IMM, perlawanan terhadapnya adalah kewajiban setiap kader IMM.”
Dalam sejarah pergerakan mahasiswa, gerakan moral mahasiswa tidak akan terpisah dari lingkungan kondisi politik yang melingkupinya. Setidaknya ada dua hal yang mendasari: pertama, agent of change atau agen perubahan, yang melekat karena didasari oleh para kaum muda khususnya mahasiswa untuk menentang secara naluriah dari segala bentuk kebijakan yang tidak pro dengan rakyat. Kedua, masyarakat dari berbagai elemen yang merupakan objek dari setiap  kebijakan publik, yang banyak berharap kepada pergerakan mahsiswa yang netral supaya aspirasi mereka bisa tersampaikan terhadap pemerintah tanpa harus melaui partai politik, dan lain-lain. Kondisi seperti bisa dikatakan sebagai simbiosis mutualisme antara mahasiswa dan elemen masyarakat. Tapi terkadang orisinalitas pergerakan mahasiswa kini mulai terkikis oleh maraknya predator demonstran, yang mempunyai kepentingan, bukan lagi gerakan mahasiswa yang murni dari seruan moral. 
Seiring dengan laju zaman dan arus perubahan sosial bagaikan petir yang menyambar, saat ini mahasiswa terlebih kader IMM tengah berdiri dalam kondisi kebangsaan yang tidak kalah akut dan sulitnya dibandingkan dengan apa yang terjadi di orde lama, orde baru dan pasca reformasi. Persoalan demi persoalan datang menerpa menggrogoti bangsa dan Negara kita. Krisis dan degradasi moral kini bagaikan virus yang menjangkit seluruh aspek kehidupan bernegara seperti, ekonomi, politik, hukum dan kehidupan sosial pada umumnya. Kondisi seperti ini tidak boleh dibiarkan saja, karena ini akan berakibat fatal dn krusial apabila bangsa dan Negara kita terjerembab dalam kondisi yang semakin liar.
Jika melihat realitas yang terjadi sekarang, degradai moral sangat mencengangkan dan membuat mata terbelalak dengan peristiwa yang di alami oleh bangsa kita. Undang-undang dasar 1945 dan pancasila tak terlalu diindahkan, masyarakat kini hamper kehilangan identitas mereka, agama kini dibenturkan dengan persoalan politik oleh sang pemangku kebijakan sehingga terjadi gejolak ditengah tengah masyarakat. Semboyan Indonesia sebagai bangsa dan Negara hukum yang pancasialis dan agamis kini mulai luntur. Kepercayaan rakyat terhadap sang pemangku kebijakan kini mulai mengalami erosi kepercayaan akibat ulah mereka sendiri. hampir seluruh instansi pemerintahan kini sudah pernah dicyduk oleh aparat penegak hukum terkait dengan kasus korupsi,kolusi dan nepotisme. Perilaku biadab seperti itu bagaikan sebuah kewajiban yang harus dilakukan oleh mereka yang seperti orang kesetanan. Keserakahan merampok hak rakyat dan memenuhi dahaga mereka yang dibutakan oleh materi, kebijakan demi kebijakan dikeluarkan yang nyaris tak menguntungkan rakyat banyak. Sementara diluar sana masih banyak anak-anak yang merupakan harapan bangsa terputus jenjang pendidikannya akibat ulah dari segelintir elit yang tak tahu malu.
BPS mencatat pada tahun 2018 bahwa masih ada sekitar 9,82 % atau 25,95 juta yang dibawah angka kemiskinan di Indonesia, dan angka pengangguran di Indonesia sekitar 6,87 juta orang.  Dan kemudian Indonesia corruption watch (ICW) mencatat pada tahun lalu ada sekitar 1.381 terdakwa kasus korupsi yang merugikan Negara mencapai 29,41 triliun, dan anehnya mereka hanya di vonis rata-rata 2 tahun 2 bulan. Ini tidak akan terlalu memberikan efek yang signifikan bagi koruptor itu sendiri, apalagi ada beberapa koruptot yang di sidak oleh awak media, memiliki kamar khusus di lapas. Jika kita kaitkan antara kasus korupsi dan angka kemiskinan serta pengangguran, ibarat system ini saling berkaitan satu sama lain, karena angka kerugian Negara yang harusnya diberikan kepada rakyat demi tercapainya sila ke lima dalam pancasila itu tidak terlaksana akibat manusia yang serakah akan materi, parahnya lagi ketika mereka sudah tertangkap basah melakukan tipikor, dan keluar dari gedung kpk dengan mengenakan rumpi orange, bagaikan orang yang tak bersalah mereka sempat-sempatnya melambaikan tangan ke awak media, ini membuktikan bahwa mereka telah putus urat malunya. Pemerintah dan penegak hukum pun seakan-akan masa bodoh dengan hal itu, atau mungkin ada permainan mata diantara mereka, wallau’alam. 
Seakan-akan hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah, kalaupun ada seseorang yang menentang kebijkan mereka, seperti yang dilakukan oleh mahasiswa pada umumnya, mereka dibungkam dengan senjata laras panjang, mereka menyiapkan tameng yang mengenakan seragam dan memegang senjata gas air mata. Untuk itu mungkin sudah terlalu lama rakyat menderita, saatnya mahasiswa mulai bangkit dari tidur lelapnya untuk menyuarakkan suara-suara kebenaran dari langit, khususnya kader IMM, desain dan konstruk dirimu dari sekarang untuk menjadi pemimpin di masa depan untuk menggantikan pemimpin dan elit penguasa yang dzolim. Karena di IMM kita telah diajarkan sejak awal akan eksistensi dari seorang mahasiswa sebagai penyambung lidah masyrakat dan menjadi tombak perdaban yang siap menumpas kemunafikan di negeri yang tercinta ini.

wassalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menjelang Pesta Demokrasi

Dear Pemilu 2019                                      Oleh: Rayu Ati (Departemen Bidang Hikmah Pikom IMM Fisip Unismuh Mak...